Mempertimbangkan AI sebagai Presiden

Pesatnya perkembangan teknologi telah membawa kita pada masa di mana Akal Imitasi (AI) berevolusi dari sekadar mesin pembantu fisik menjadi entitas yang mampu membantu manusia berpikir. Bahkan, sebuah survei dari Universitas Quinnipiac, Amerika Serikat, menyebutkan, 15 persen dari 1.397 responden dewasa menyatakan bersedia memiliki atasan berupa mesin AI.
15 persen itu telah menunjukkan bahwa masyarakat mulai menyukai dan menerima ide untuk dipimpin oleh AI. Beberapa perusahaan seperti Dictador dan NetDragon Websoft bahkan telah bereksperimen dengan sungguh-sungguh dengan menjadikan robot humanoid AI sebagai Chief Executive Officer (CEO) untuk mengambil keputusan strategis dan memimpin operasional.
Kalau di lingkup pemerintahan, Albania telah mengangkat AI sebagai menterinya, namanya Diella, yang merupakan kerja sama dengan Microsoft untuk memberantas korupsi di sana. Diella ditugaskan secara khusus untuk mengabdi pada sektor pengadaan publik guna mengelola proses tender pemerintah agar berjalan lebih cepat, transparan, dan 100 persen bebas dari praktik suap, ancaman, maupun konflik kepentingan yang selama ini menjadi masalah pelik di negara tersebut.
Alasan AI Layak Memimpin Indonesia
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam hasil survei internet APJII 2025. Dari 8.700 responden yang disurvei, 27,34 persen menyatakan telah menggunakan AI. Angka ini naik dari tahun sebelumnya, yakni 24,73 persen. Hal ini menunjukkan kenaikan dan akan terus naik hingga tahun 2029 nantinya. Yah… sudah mengalahkan suara paslon 3 pilpres 2024 hehe.
Dari data tersebut kelompok usia yang paling banyak menggunakan AI adalah generasi Z, yakni 43,7 persen, dan milenial sebanyak 22,3 persen. Sebuah angin sejuk karena usia-usia tersebut merupakan usia yang sudah bisa melakukan pemilihan pada Pemilu.
Dengan penerimaan kepemimpinan AI seperti hasil survei Universitas Quinnipiac, serta banyaknya massa Gen Z yang siap memilih, hal ini mungkin saja bisa dilakukan. Selain itu, AI juga sudah sangat mudah untuk berkampanye, kecanggihan Generative AI sekarang ini sudah bisa menciptakan video, menciptakan musik, dan menciptakan kebutuhan kampanye di ruang digital. Pertanyaan selanjutnya apakah berkampanye di ruang digital cukup? Mungkin saja.
Masyarakat kita mudah termakan oleh hoaks dan manipulasi buatan AI. Fenomena deepfake di Indonesia kini sangat masif dan kerap disalahgunakan untuk menggiring opini publik, terutama pada isu-isu politik. Jadi ini sangat mungkin untuk dilakukan, melihat bagaimana kesuksesan kampanye digital pada pemilu 2024 lalu. Cobalah buka platform Facebook dan lihat bagaimana konten AI secara masif tersebar dan digemari, di situ keniscayaan bahwa presiden AI ini semakin besar.
Mengapa AI?
AI tampaknya bisa menjadi pemimpin yang ideal karena AI itu bijak, pintar, tidak pernah menghakimi, tidak mungkin salah jadwal, tidak mungkin salah bicara, bahasa Inggrisnya bagus (it walks the talk) dan tentunya dia bisa bekerja 24 jam tanpa tidur memikirkan negara ini.
Bukankah itu tipe kepemimpinan yang diidam-idamkan masyarakat kita? AI ini juga bisa menerima masukan dari seluruh masyarakat Indonesia dan mempertimbangkannya, ini menciptakan kesan ‘intimate’ dengan pemimpin kita sendiri.
Bayangkan setiap malam kamu bisa berdiskusi atau menyarankan beberapa kebijakan ke presiden kamu sendiri. Pastinya asik dan digandrungi Gen Z, mengingat 90 persen remaja di Indonesia lebih senang curhat menggunakan chatbot AI dibandingkan bercerita langsung kepada teman atau orang lain. Data lain dari pemberitaan CNN Indonesia juga memperkuat fenomena ini dengan menyebutkan bahwa 3 dari 10 orang di Indonesia memilih untuk curhat ke AI saat mereka sedang bersedih.
Dengan kepemimpinan AI, kita tidak perlu repot-repot melakukan demo dengan membakar ban, berteriak sampai pita suara hampir putus tapi suaranya tidak terdengar juga. AI berbasis data, sehingga semakin banyak datanya semakin kuat pengambilan keputusan dari model tersebut, itulah mengapa AI ini adalah pemimpin yang sangat ideal untuk negara demokrasi seperti ini.
Namun skenario diatas hanyalah sebuah candaan dan refleksi bagaimana sebenarnya AI mempengaruhi dunia digital kita sekarang. Takutnya jika presiden kita benar adalah AI dan tiba-tiba kunjungan ke wilayah 3T dan jaringannya mati atau dayanya mati karena listrik belum masuk, kan tidak lucu.
Jika AI juga menjadi pemimpin kita, kita mungkin rindu dengan candaan seperti presiden yang tiba-tiba joget gemoy, atau teriak antek-antek asing dan segala dagelan lainnya. Karena hidup pada dasarnya memang butuh sedikit kekonyolan kecil.
Mungkin, saya akan menutup tulisan kali ini dengan merefleksikan sedikit apa yang dikatakan oleh Alan Turing
A computer would deserve to be called intelligent if it could deceive a human into believing that it was human.
Opini Ini Sudah Termuat di: https://identitasunhas.com/mempertimbangkan-ai-sebagai-presiden/